Home > Uncategorized > Kisah Tentang Sebuah Mimpi Yang Mustahil – Pengalaman Edward Hughes

Kisah Tentang Sebuah Mimpi Yang Mustahil – Pengalaman Edward Hughes

Peta Pikiran

Setelah Use Both Sides of Your Brain pertama kali diterbitkan pada tahun 1974, seorang “pelajar berkemampuan rata-rata, bertubuh sedang, tidak begitu bagus dalam setiap mata pelajaran”, pada tahun 1982 di usianya yang kelima belas, mengambil ujian tingkat “O”-nya.

Hasilnya, seperti telah diduga dan selalu seperti itu, adalah C dan B. Ia merasa kecewa dengan hasil tersebut karena ia telah mempersiapkan diri untuk mendaftar ke Universitas Cambridge. Ia sadar jika cara belajarnya tidak berubah, maka ia tidak akan mampunyai kesempatan apa pun. Pelajar itu bernama Edward Hughes.

Tak lama kemudian, ayah Edward, George, memberinya buku Use Both Sides of Your Brain. Dengan berbekal informasi baru tentang dirinya dan tentang begaimana Memetakan Pikiran, belajar dan menempuh studi, Edward kembali lagi ke sekolahnya dengan semangat dan motivasi baru. Ia menyatakan bahwa ia harus mendapatkan nilai A untuk semua mata pelajaran. Dengan keyakinan pula, ia ingin bisa masuk ke Universitas Cambridge.

Guru-gurunya melongo, dan memberikan reaksi yang berbeda-beda.” Kamu pasti bergurau. Kamu sudah tidak memiliki kesempatan – nilai akademikmu tak pernah mendekati standar nilai yang diinginkan pihak Cambridge,” kata salah seorang gurunya.

“Jangan ngawur kamu ini! Mungkin saja kamu dapat nilai B, tetapi bisa juga hanya C,” sahut yang lain. Ketika Edward menyatakan bahwa ia tidak hanya ingin lulus ujian standar saja, tetapi juga ingin mendapatkan beasiswa, gurunya berkata datar, “Jangan. Mengikuti ujian itu akan membuang-buang uang sakolah dan waktumu. Kami rasa kamu tidak akan lulus karena ujiannya sangat sulit-bahkan banyak calon terbaik pun gagal.” Edward tetap bersikeras sehingga pihak sekolah terpaksa memberinya kesempatan, meski ia harus membayar sendiri uang pendaftarannya sebesar $20 karena pihak sekolah tidak ingin mengeluarkan banyak uang untuknya.

Guru katiga menyatakan bahwa ia telah mengajar mata pelajaran yang sama selama dua belas tahun terakhir, bahwa ia merupakan seorang akhli di bidangnya, dan ia tahu apa yang ia katakan ketika ia bilang bahwa Hughes hanya akan mendapat nilai B atau C. Guru itu menyebut” anak lain” yakni seorang pelajar yang jauh lebih baik dibanding Edward. Ia menyatakan bahwa Edward tidak akan pernah bisa sepintar yang lain. Pada saat itu Edward berkata,” Saya tidak dengan cara dia membaca situasi ini!”

Guru yang keempat tersenyum sambil menyatakan bahwa ia sangat kagum dengan ambisi Edward. Ia juga bilang bahwa mimpi Edward itu bisa terjadi, tapi kecil kemungkinannya. Katanya, sekalipun ia bekerja keras, ia hanya akan mendapatkan nilai B. Ia juga menyatakan bahwa ia selalu menyukai orang yang punya inisiatif.

SAYA HARUS MENDAPATKAN NILAI “A”

Kepada setiap guru, dan setiap orang yang mempertanyakan cita-citanya tersebut, jawaban Edward selalu: ” Saya harus mendapatkan nilai A.”

Pihak sekolah tidak ingin mendaftarkan Edward ke Universitas Canbridge, tetapi akhirnya menyetujui untuk melakukan hal itu, dan membiarkan pihak Universitas Canbridge mengetahui bahwa meraka telah menduga si pelajar khusus ini tidak akan mendapatkan tempat yang diinginkannya.

Tahapan selanjutnya dan paling dekat adalah wawancara. Pihak pimpinan Universitas Cambridge memberitahu Edward tentang pendapat sekolah menganai dirinya, setuju dengan pihak sekolah bahwa kemungkinan keberhasilannya sangatlah kecil. Pihak Universitas mengagumi inisiatifnya, memberitahunya bahwa ia hanya memerlukan dua nilai B dan satu A, tapi yang lebih mungkin adalah dua nilai A dan satu B, atau malah tiga nilai A, dan mengharapkan dia sukses.

Tanpa marasa gentar, Edward mengikuti satu rencana dalam buku Use Both Sides of Your Brain dan menjalankan latihan fisik. Dalam penuturannya sendiri:” Saya semakin mendekati ujian itu. Saya merangkum catatan-catatan sekolah selama dua tahun terakhir ke dalam Peta Pikiran. Saya kemudian mewarnainya dengan rapi, menggarisbawahinya, dan membuat Peta Pikiran Utama yang besar untuk setiap mata pelajarannya, dan dalam beberapa hal untuk setiap bagian utama dari setiap mata pelajaran. Dengan cara ini, saya bisa melihat di mana dan bagaimana unsur-unsur yang lebih detil terkait satu sama lain. Di samping itu, saya mendapatkan sebuah rangkuman yang bagus sekali, sehingga membuat saya, dengan daya ingat yang benar-benar akurat, mampu ‘melewati dengan mudah’ bagian-bagian besar dari mata pelajaran itu.

“Saya mengkaji kembali Peta Pikiran ini sekali dalam satu minggu bahkan lebih teratur lagi ketika masa ujian semakin dekat. Saya melatih Peta Pikiran Ingatan saya, tanpa melihat buku atau catatan lainnya. Saya hanya menggambar dari memori saya pengetahuan dan pemahaman saya tetang mata pelajaran itu, dan kemudian membandingkan Peta Pikiran ini dengan Peta Pikiran Utama saya, sambil mengecek perbedaannya.

“Saya juga memastikan saya telah membaca semua buku kunci utama, dan kemudian menyaringnya dalam ikhtisar, membacanya dengan seksama, dan Memetakan isinya dalam Pikiran, sehingga pemahaman dan ingatan saya menjadi maksimal. Di samping itu, saya mempelajari bentuk dan gaya esai yang bagus, dan mempergunakan Peta Pikiran saya sebagai dasar latihan menulis esai dan ujian.

“Saya menyertai ini dengan menjaga kesehatan lebih baik lagi, dengan berlari kurang lebih dua hingga tiga mil, selama dua hingga tiga kali setiap minggunya, sambil menghirup udara segar sebanyak mungkin dan melakukan latihan press-ups dan sit-ups, serta menghabiskan waktu di gedung olahraga. Secara fisik, saya semakin sehat, sehingga membantu saya berkonsentrasi secara penuh. Seperti kata mereka, tubuh sehat, pikiran sehat; pikiran sehat, tubuh sehat. Saya merasakan diri saya lebih sehat dan lebih baik dalam pekerjaan saya.”

UJIAN DAN HASILNYA

Akhirnya, Edward mengikuti empat mata ujian dalam bidang Geografi, makalah Beasiswa Geografi, ilmu Bisnis dan Sejarah Abad Pertengahan.

Hasil ujiannya sebagai berikut:

Mata Pelajaran                    Nilai                                                         Rangking

Geografi                                 A                                                              Pelajar Terbaik

Ilmu Geografi                       Terhormat                                            Pelajar Terbaik

Sejarah Abad P.                   A                                                              Pelajar Terbaik

Ilmu Bisnis                             A dan 2 Terhormat                            Pelajar Terbaik

Sehari setelah pengumuman hasil tersebut, fakultas pilihan pertama Edward di Cambridge mengonfirmasi tempatnya. Permintaannya pun dipenuhi untuk ” cuti satu tahun” untuk berkeliling dunia sebelum memulai kariernya di Universitas. Selama “cuti panjang”-nya itu, ia bekerja di Singapura, sebagai koboi di Australia, dan juga menikmati liburan di Fiji dan Hawaii. Kemudian ia terbang ke California tempat ia bekerja di unit-unit pemindahan embrio, dan di kandang-kandang ternak. Dia bekerja di lading-ladang pertanian di Amerika, dan kemudian kembali ke Inggris.

Sebelum pergi ke Cambridge, di samping sukses akademis selama kuliah di Universitas, Edward memutuskan bahwa ia bercita-cita menciptakan himpunan mahasiswa baru, aktif dalam olahraga untuk fakultas, banyak berteman, dan menikmati “masa yang sangat menyenangkan”.

DI CAMBRIDGE

Dalam bidang olahraga ia sangat sukses. Di fakultas, ia bergabung dalam sepak bola, tenis, dan squash. Dan di lingkungan perhimpunan mahasiswa ia terkenal sebagai mahasiswa berprestasi. Karena di samping mendirikan Himpunan Wirausaha Muda, sebuah organisasi sejenis peling besar di Eropa, Edward diminta untuk memimpin Himpunan Orang Baik-baik, sebuah organisasi amal dengan anggota berjumlah 3.600 orang, dan berkembang menjadi 4.500 di bawah kepempinannya – organisasi terbesar dalam sejarah Universitas itu. Melihat hasil kerjanya di dua organisasi ini, para pemimpin organisasi lainnya meminta Edward membentuk dan memimpin suatu himpunan bagi para pemimpin. Ini pun dia lakukan, dan ia benar-benar menjadi Pemimpin bagi Klub Para Pemimpin!

Secara akademik, pertama-tama ia mempelajari kebiasaan “mahasiswa berkemampuan rata-rata” dan melaporkan: “Mereka membaca selama kurang lebih 12-13 jam untuk membuat satu esai, mencatat secara linear segala informasi yang mereka peroleh, membaca sebanyak mungkin buku, dan setelah membaca buku mereka akan menghabiskan waktu sekitar 3-4 jam untuk menulis esai itu sendiri (sebagian mahasiswa akan menulis kembali esai mereka, kadang menghabiskan waktu satu pekan penuh untuk satu esai).”

Belajar dari pengalamannya dengan persiapan dan ujian tingkat “O”, Edward memutuskan untuk menghabiskan waktunya selama 2-3 jam sehari selama 5 hari seminggu untuk belajar. “Selama tiga jam itu, ia mempelajari kuliah pokok, meringkas informasi terkait dalam bentuk Peta Pikiran. Saya menetapkan untuk diri saya suatu tujuan bahwa begitu setiap esai selesai, saya akan pergi dan membuat Peta Pikiran tentang apa yang saya ketahui mengenai pelajaran itu atau yang saya pikir terkait dengannya. Kemudian, saya akan membiarkannya selama beberapa hari, memikirkannya kembali, membolak balikkannya dalam pikiran saya, dan kemudian membaca dengan cepat dan menyeluruh semua buku yang berkaitan dengannya, dan memetakan dalam pikiran informasi-informasi yang relevan dengannya. Saya kemudian istirahat sebentar atau berolahraga, kemudian kembali membuat Peta Pikiran tentang esai itu sendiri.Setelah menyelesaikan rencana esai saya, saya istirahat lagi, kemudian duduk kembali menyelesaikan esai yang selalu memakan waktu maksimal 45 menit. Dengan teknik ini biasanya saya mendapat nilai tinggi.”

Sebelum ujian akhir di Cambridge, Edward bekerja sesuai jadwal yang pada dasarnya serupa dengan rencana yang telah ia persiapkan untuk mendapatkan nilai A. Dan ia pun mengikuti enam ujian akhir.

Hasilnya?

HASIL UJIAN

Pada ujian pertama, ia lulus, biasanya dianggap cukup tetapi di sini dinilai sangat baik karena 50% dari mereka yang mengikuti ujian itu gagal, dan tak ada nilai yang diberikan; Pada ujian kedua, ketiga dan keempat, ia mendapat tiga 2,1; dan pada akhir ujian ia mendapat dua kelas pertama – bukan saja kelas-kelas pertama, melainkan Kelas Utama (Star Firsts), ranking tertinggi di Universitas dalam mata pelajaran itu.

Segera setelah ujian itu, Edward ditawari bekerja sebagai seorang Pemikir Strategis untuk sebuah perusahaan entrepreneur multinasional, sebuah pekerjaan yang oleh pihak Universitas digambarkan sebagai “pekerjaan paling baik yang pernah ada” bagi lulusan nongelar Universitas Cambridge. Seperti dikatakan Edward: “Cambridge sungguh luar biasa. Saya cukup beruntung mendapat banyak hal darinya – banyak teman, banyak pengalamam, banyak kegiatan fisik, antusiasme dan kesuksesan di bidang akademik, dan menikmati masa tiga tahun yang benar-benar menyenangkan. Perbedaan utama antara diri saya dan orang lain hanyalah bahwa saya mengetahui bagaimana berpikir – bagaimana mempergunakan kepala ini. Dulu saya adalah mahasiswa dengan nilai C dan B sebelum saya tahu bagaimana “mendapat nilai A”. Saya telah membuktikannya. Dan setiap orang pun bisa melakukannya.”

Link terkait dengan mindmap :

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

*

Skip to toolbar